Jumat, 15 Juli 2011

Raja Singa Bansa; Simbol Kebersahajaan Orang Dayak

Raja identik dengan kekuasaan (wilayah kekuasaan) dan kekayaan. Tidak demikian halnya dengan raja Dayak: tanpa kekuasaan dan kekayaan. Belum ada setitikpun tercantum dalam berbagai buku sejarah Indonesia. Lebih tragis lagi, jangankan orang luar, orang Dayakpun banyak yang tidak tahu kalau mereka mempunyai raja. Penduduk kampung sekitarnyapun tidak tahu lagi apakah raja mereka masih ada. Sebaliknya, sebagian warga Dayak dari luar kabupatan Ketapang (di Kalbar) dan sebagian kecil Dayak di Sarawak (Malaysia) sampai kini datang memberi upeti dan masih percaya dan menghormatinya sebagai raja; apalagi mereka yang akrab dengan dunia kebathinan/supranatural.

Memang, jika pertama kali berjumpa kita akan terkejut melihat sosok seorang Raja Hulu Aik. Pembawaannya tenang, pendiam. Jika bicara dan mengambil keputusan barulah kharismanya sebagai raja nampak. Sangat bersahaja, sederhana, jujur dan apa adanya. Dialah Raja Singa Bansa (27 th), pewaris ke-6 tahta Raja Hulu Aik; satu-satunya Raja Dayak di Indonesia.

Raja Hulu Ai adalah sebutan untuk pemimpin Kerajaan Hulu Aik. Awal mula Kerajaan Hulu Aik di wilayah Pancur Sembore dan Tanjung Porikng, udik sungai Krio (kini masuk Desa Menyumbung, Kec. Sandai, Kab. Ketapang-Kalbar), sekitar tahun 1700-an. Pemimpin pertamanya Pang Ukir Empu Geremeng. Ia digantikan Bihukng Tiung. Sejak Bihukng inilah wilayah Pancur Sembore- Tanjung Porikng dinamakan kerajaan Hulu Aik. Bihukng sebagai raja I. Bihukng digantikan Bansa Pati (II), Ira Bansa (III), Temenggung Jambu (IV), Bebek (ayah Raja Singa Bansa, raja ke-5). Dan Raja Hulu Aik VI adalah Singa Bansa. Karena tidak ada wilyah kekuasaan yang jelas, pusat kerajaan Hulu Aik berpindah-pindah mengikuti siapa rajanya di sepanjang daerah aliran sungai Krio.

Secara material kehidupan keluarga Raja Singa Bansa memang sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan miskin. ?Istana?-nya(rumah-red.) terletak di daerah terpencil nun jauh di pedalaman, di kampung Sengkuang, Desa Menyumbung, Kec. Sandai, Kabupaten Ketapang (Kalbar). Dari Pontianak ke Ketapang, dan dari kota kabupaten Ketapang naik speed boat 6 jam,dilanjutkan speed boat kecil 15 PK sekitar 4 jam mudik menerjang jeram sungai Krio.

Rumahnya 8 X 7 meter3, berlantai dan berdinding papan, beratap kayu sirap. Tangga dari sebatang balok kayu besi yang diberi buku-buku. Tidak ada satu kursipun di ruang tamu. Tetamu duduk di lantai beralaskan tikar pandan. ?Ini rumah pemberian pemerintah,?katanya. Sebagai Raja Hulu Aik ia tidak boleh kerja keras, sehingga tidak mungkin bisa mempunyai rumah. Dulu rakyatnyalah yang membuatkan rumah. Di salah satu ruangan tersimpan pusaka keramat Kerajaan Hulu Aik, yakni Bosi Koling Tungkat Rakyat; berujud sebuah keris dari besi kuning.

Bagi Singa Bansa, predikat Raja Hulu Aik merupakan kewajiban yang teramat berat. ?Sebenarnya saya sangat berat menerima jabatan ini. Namun karena sudah keturunan, tidak boleh ditolak. Mungkin inilah jalan hidup saya,? katanya pasrah.

Agama Katolik yang dianutnya sejak kecilpun terpaksa harus ditinggalkan setelah dinobatkan sebagai Raja Hulu Aik VI. Istrinya, Anastasia Bijan (33 th), juga harus meninggalkan agama Katolik. Ia dan isterinya kembali ke kepercayaan kepada Duwata (Tuhan—Dayak Krio) menurut orang Dayak Krio disana. Sedangkan Edi Kurniawan, anaknya, masih boleh beragama Katolik.

Kewajiban utama setiap Raja Hulu Aik melaksanakan adat Meruba setiap tahun. Yaitu adat memandikan/mencuci Bosi Koling Tungkat Rakyat (artinya Besi Kuning Penopang Rakyat-red). Benda keramat itu berujud keris terbuat dari besi kuning, yang merupakan sumberkehidupan manusia menurut orang Dayak Krio. Benda keramat itu harus dipelihara para Raja Hulu Aik. Sebab jika habis, maka dunia pun akan berakhir.

Mulanya Bosi Koling Tungkat Rakyat panjang nya sekitar 20 cm. Namun kini menurut RajaSinga Bansa tinggal 5 cm. ?Keris itu makin tahun mengecil karena banyak kesalahan yang dibuat oleh masyarakat,?ujar Raja Singa Bansa.

Agar barang keramat tersebut tidak habis, maka setiap tahun harus dilaksanakan adat Meruba. Namun adat Meruba bukan semata-mata Raja Hulu Aik mencuci Bosi Koling Tungkat Rakyat, tetapi juga mengetahui apa yang bakal terjadi tahun yang akan datang.

Sewaktu dilaksanakan adat Meruba tahun 1997 didalam peti tempat Bosi Koling Tungkat Rakyat, terdapat pasir kering. Itu artinya, alam ini akan kemarau panjang dan semua makhluk hidup akan kesusahan. Kebetulan atai tidak, ternyata tahun 1997 Elnino menyebabkan kekeringan.

Sewaktu Meruba tahun 1998, di dalam peti terdapat lumpur dan air. Sedangkan Bosi koling tungkat rakyat yang dibalut kain kuning tujuh lilitan itu juga terasa panas. Artinya, situasi dunia penuh ketegangan, keruh dan kotor seperti lumpur, serta akan musim penghujan. Sampai kinipun orang Dayak Krio disana masih sangat percaya dengan pertanda alam dari adat Meruba. Para petani sangat berkepentingan untuk mengetahui kondisi alam.

Selama mencuci keris dengan minyak kelapa, Raja pun tidak boleh melihat, hanya meraba sambil mengeluarkan kotoran di dalam peti. Jika dilihat, maka pelan tapi pasti akan akan buta. Ketika dilantik untuk pertama dan terakhir kalinya Raja Hulu Aik melihat keris itu, matanya pelan tapi pasti akan buta. Karena biasanya hanya melihat dengan sebelah mata, maka ciri khas Raja Hulu Aik adalah buta mata sebelah.

Raja Hulu Aik wajib berladang. Selain ladang adalah sumber dan pusat kebudayaan Dayak, hanya berladang aktivitas hidup yang tidak tergantung dengan orang lain. Hasil ladang bisa langsung dinikmati petaninya. Kalau pekerjaan lain, misalnya menyadap karet, terlebih dahulu harus dijual kepada orang lain. Mendapatkan upah dari orang lain tidak diperbolehkan bagi seorang Raja Hulu Aik.

Ketika dinobatkan sebagai Raja Hulu Aik ke-6, Ia menyadari bahwa bekal ilmu pengetahuannya sebagai raja sangatlah kurang mengingat kompleksitas permasalahan manusia dewasa ini. Ia hanya sempat menamatkan SLTP. ?Saya rajin membaca buku-buku yang dikirimi teman-teman dari Pontianak untuk menambah wawasan,?ujarnya.

Harapan Raja Singa Bansa kini tertumpu pada anak satu-satunya, Elius Edi Kurniawan (7 th) yang kini duduk di kelas 2 SDN Sengkuang, Kec. Sandai (Ketapang-Kalbar). Dialah calon Raja Hulu Aik VII. “Kalau bisa, Edi bukan hanya berpredikat Raja Hulu Aik, tetapi juga berpendidikan yang memadai,?harap Singa Bansa pasrah. Bahkan pendidikan anaknya terancam gagal karena kesulitan biaya. Ia sadar, sebagai raja, sebagai panutan rakyatnya, dituntut mengikuti perkembangan jaman. Di sisi lain, setelah menjadi raja nanti aktivitas duniawinya banyak dikurangi, termasuk bekerja, dan banyak larangan (tabo).

Symbol

Raja Hulu Aik bukanlah raja yang mempunyai daerah kekuasaan secara definitif.Dulu wilayah kekuasaannya meliputi Laman Sembilan Domong Sepuluh. Wilayah ini sekarang meliputi kabupaten Ketapang, sebagian Kab. Sanggau, dan sebagian kecil orang Dayak di Sarawak (Malaysia). Dulu, merekalah yang menghidupi Raja Hulu Aik. Raja Hulu Aik sebagai pemersatu dan perantara mereka mohon bantuan kepada Tuhan, karena raja memelihara Bosi Koling Tungkat Rakyat.

Kekuasan Raja Hulu Aik mulai pudar ketika datang penjajah Belanda. Dengan politik devide et impera, Dayak dan Melayu diadudomba. Menurut Mill Rockaert, sejarahwan dari Belgia, Belanda menguasai orang-orang Dayak dengan menjadikan golongan Melayu sebagai proxy-nya, sehingga makin memperlemah eksistensi Raja Hulu Aik.

Setelah penjajahan berakhir, di alam kemerdekaan nasib Raja Hulu Aik malah nyaris tidak ada tempat di negara Indonesia. Dengan berbagaiteknik, model penundukkan dan penjajahan kultural gaya baru yang dibungkus pembangunan, modernisasi selama 53 tahun Indonesia merdeka, pelan tapi pasti kini Raja Hulu Aik hampir-hampir tidak ada lagi.

?Kami bukan tidak mau mengakui, menjunjung tinggi eksistensi Raja Hulu Aik. Tapi memang rakyat tidak pernah tahu karena dibuat sedemikian rupa agar tidak mengetahui Raja Hulu Aik,?ujar Unus (65 tahun), kepala adat Dayak Kayong dan Patinggi Aris, kepala adat Dayak Simpang.

Kemunculan pertama kali Raja Singa Bansa ke publik ketika pelaksanaan adat tolak bala mencegah kerusuhan di Ketapang pertengahan Juli 1998 lalu, sangat membanggakan masyarakat Dayak. Mereka kini tahu mempunyai raja. Bukan raja sebagai penguasa, punya wilayah kekuasaan; tapi raja sebagai simbol pemersatu orang Dayak untuk membangun Republik Indonesia ini.

?Raja Hulu Aik adalah simbol keterpinggiran orang Dayak di Republik ini. Maka kemunculannya ke muka umum dan diketahui masyarakat luas, semoga bisa membangkitkan semangat orang Dayak untuk menjadi subyek pembangunan,?kata S. Djuweng, Direktur Institut Dayakologi (Pontianak).

Raja Hulu Aik memang bukan raja seperti biasanya. Mungkin Ia raja luar biasa karena kesederhanaan dan keagungan prinsip hidupnya. Dia simbol kesederhanaan, kebersahajaan manusia Dayak yang dari dulu hingga kini termarjinalisasi di tanah tumpah darahnya sendiri.

Dulu Ia dihormati, menjadi pemersatu. Kini tidak lagi. Menurut para ahli tentang Dayak, penjajahan, pembangunan dan modernisasi telah pelan tapi pasti berperan besar menghilangkan eksistensi Raja Hulu Aik. ?Orang Dayak itu mayoritas dalam jumlah, tapi minoritas dalam peranan,”kata Mill Rockaert(1996). Lebih parah lagi, “masyarakat Dayak itu antara ada dan tiada,”ujar GP. Djaoeng, tokoh Dayak di Pontianak yang juga mantan anggota MPR 1993-1998.

Mungkin pelajaran 53 tahun berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan berbagai akibatnya kini bisa mengubah pandangan para pejabat di Jakarta tentang konsep “merdeka” yang dituntut masyarakat adat di berbagai pelosok Nusantara, termasuk Dayak. Yakni merdeka untuk mengurus daerah sendiri dalam konteks negara kesatuan Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar